Rabu, 07 November 2012

pemerolehan dan perkembangan bahasa anak


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jika diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari, pada saat anak-anak belajar bahasa diluar sekolah terlihat mudah, berbeda dengan mereka belajar bahasa di sekolah yang terlihat sulit dan membosankan. Mengapa demikian?
Pemerolehan bahasa dan perkembangan bahasa mendasarikemampuan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia kepada siswa di sekolahdasar terutama siswa di kelas rendah. Sekolah dasar merupakan tempat untuk menampung berbagai karakter bahasa siswa dari masing-masing keluarganya. Begitu juga karakteristik setiap anak tidak samasehingga dengan mempelajari pemerolehan dan perkembangan bahasa, kita dapat mengatasi perbedaan perkembangan bahasa pada siswa, agar kita dengan mudah memahami cara belajar bahasa mereka diluar sekolah sehingga juga mudah menerima bahasa yang diberikan disekolah. Siswa sekolah dasar pada umumnya berlatar belakang dwibahasa bahkanmulti bahasa, sehingga dengan mempelajari materi pemerolehan dan perkembangan bahasa, kita dapat benar-benar memahami konteks sosialbudaya lingkungan anak didik kita dan menghargai keragaman budayatersebut.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas ditemukan beberapa permasalahan,diantaranya:
1. Apa yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa?
2. Apa saja ragam pemerolehan bahasa?
3. Bagaimanakah strategi pemerolehan bahasa?
4. Apa yang dimaksud dengan perkembangan bahasa?
5. Bagaimana tahap-tahap prkembangan bahasa?
C. Tujuan
Dengan mempelajari materi pemerolehan dan perkembangan bahasa,mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan hakikat pemerolehan bahasa.
2. Menjelaskan ragam pemerolehan bahasa.
3. Menjelaskan strategi pemerolehan bahasa.
4. Menjelaskan hakikat perkembangan bahasa.
5. Menjelaskan tahap-tahap perkembangan bahasa.
BAB II
PEMBAHASAN
1.    Hakikat Pemerolehan Bahasa
1.1     Pengertian Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk,1998)
Ada juga pendapat Kiparsky dalamTarigan (1998) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oeh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan.
Kemerdekaan bahasa ditunjukkan mulai sekitarusia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas ataukata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai tujuan sosial mereka.Pengertian lain mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatupermulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi kognitif pra-linguistik (McGraw, 1987 ; 570). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemerolehan bahasa :
a.  Berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar tanpa beban dan berlangsung di luar sekolah (lingkungan tempat tinggalnya).
b.  Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal di lembaga- lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus.
c. Dilakukan tanpa sadar atau secara spontan.
d. Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak.
1.2     Teori Pemerolehan Bahasa Anak
·         Teori Behaviorisme
Teori behaviorisme menyoroti perilaku kebahasaan yang dapat diamatilangsung dan hubungan antara rangsangan (stimulus) dan reaksi (respon).Perilaku bahasa yang efektif adalah membuat reaksi yang tepat terhadaprangsangan. Reaksi ini akan menjadi suatu kebiasaan jika reaksi tersebutdibenarkan. Sebagai contoh, seorang anak mengucap “bilangkali” untuk “barangkali” pasti anak akan dikritik oleh ibunya atau siapa saja yang mendengar kata tersebut.Apabila suatu ketika si anak mengucapkan barangkali dengan tepat, dia tidakakan mendapat kritikan karena pengucapannya sudah benar. Situasi sepertiinilah yang dinamakan membuat reaksi yang tepat terhadap rangsangan danmerupakan hal pokok bagi pemerolehan bahasa pertama.
·         Teori Nativisme Chomsky
Teori ini merupakan penganut nativisme. Menurutnya, bahasa hanyadapat dikusai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasamanusia. Pendapat Chomsky didasarkan pada beberapa asumsi.
Pertama,perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetik), setiap bahasamemiliki pola perkembangan yang sama (merupakan sesuatu yang universal),dan lingkungan memiliki peran kecil dalam proses pematangan bahasa.Kedua, bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang relatif singkat. Ketiga,lingkungan bahasa anak tidak dapat menyediakan data yang cukup bagipenguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa. Menurut aliran ini, bahasa adalah sesuatu yang kompleks dan rumitsehingga mustahil dapat dikuasai dalam waktu yang singkat melalui“peniruan”.
·         Teori Kognitivisme
Munculnya teori ini dipelopori oleh Jean Piaget (1954) yang mengatakanbahwa bahasa itu salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal darikematangan kognitif. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutanperkembangan bahasa (Chaer, 2003:223).
·         Teori Interaksionisme
Teori interaksionisme beranggapan bahwa pemerolehan bahasa merupakanhasil interaksi antara kemampuan mental pembelajaran dan lingkunganbahasa. Hal ini dibuktikan olehberbagai penemuan seperti yang telah dilakukan oleh Howard Gardner. Diamengatakan bahwa sejak lahir anak telah dibekali berbagai kecerdasan. Salahsatu kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan berbahasa (Campbel, dkk.2006:2-3). Akan tetapi, yang tidak dapat dilupakan adalah lingkungan jugafaktor yang mempengaruhi kemampuan berbahasa si anak.
1.3     Tahap Perkembangan Pemerolehan Bahasa Anak
Tahapan perkembangan pemerolehan bahasa anak meliputi :
a.              Perkembangan Prasekolah.
Perkembangan prasekolah mulai dari anak mengatakan kata-kata pertamanya, terus menerus berupaya mngumpulkan nama-nama benda dan orang di dunianya, perkembangan disaat dia selalu bertanya,sertamulai menggabungkan kalimat-kalimat
b.              Perkembangan Masa Sekolah.
Perkembangan bahasa pada masa-masa sekolah terutama karena sang anak terusmenerus menambah pengalamannya,serta dengan cepat mengembangkan bahasa yang dimilikinya. Hali ini mengandung arti bahwa sekolah mempunyai peran penting dalam pemerolehan dan peerkembangan bahasa anak.
2.         Ragam Pemerolehan Bahasa
              Ragam atau jenis pemerolehan bahasa dapat kita tinjau dari berbagai sudutpandang, yaitu :
2.1  Berdasarkan bentuk
Ditinjau dari segi bentuk, ragam pemerolehan bahasa anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau first language acquisition
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau second language acquisition
c.       Pemerolehan berulang-ulang (klein, 1986 ; 3)
2.2  Berdasarkan urutan
Ditinjau dari segi urutan, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.       Pemerolehan bahasa pertama atau first language acquisition
b.      Pemerolehan bahasa kedua atau secong language acquisition(Winitiz, 1981 ; Stevens, 1984)
2.3  Berdasarkan jumlah
Ditinjau dari segi jumlah, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.  Pemerolehan satu bahasa atau monolingual acquestion
b.  Pemerolehan dua bahasa atau bilingual acquestion ( Gracia, 1983)
2.4  Berdasarkan media
Ditinjau dari segi media, ragam pemerolehan anak meliputi :
a.  Pemerolehan lisan atau oral language acquestion
b.  Pemerolehan bahasa tulis atau written language acquestion (Freedman, 1985)
2.5  Berdasarkan keaslian
Ditinjau dari segi keaslian atau keasingan, ragam pemerolehan anak meliputi
a.       Pemerolehan bahasa asli atau native language acquestion
b.      Pemerolehan bahasa asing atau foreign language acquestion (Winitz, 1981)
3. Strategi Pemerolehan Bahasa Anak
3.1 Pemerolehan Bahasa Pertama.
                        Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secaraverbal itulah yang disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Jadi pemerolehanbahasa pertama terjadi bila anak pada awal kehidupannya tanpa bahasa kinitelah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa tersebut,bahasa anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk ataustruktur bahasanya. Anak akan mengucapkan kata berikutnya untuk keperluankomunikasinya dengan orang tua atau kerabat dekatnya. Anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi.
Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Berbagaipenelitian menemukan berbagai jenis peniruan atau imitasi, seperti:
·         Imitasi spontan
·         Imitasi perolehan
·         Imitasi segera
·         Imitasi lambat
·         Imitasi perluasan
Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strategi produktivitas.Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasamelalui sarana komunikasi linguistik dan nonlinguistik (mimik, gerak, isyarat,suara dsb).
Strategi ketiga adalah strategi umpan balik, yaitu umpan balik antarastrategi produksi ujaran (ucapan) dengan responsi
Strategi keempat adalah apa yang disebut prinsip operasi. Dalam strategiini anak dikenalkan dengan pedoman, ”Gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (seperti kata: berajar menjadi belajar).
3.2  Pemerolehan Bahasa Kedua
          Pemerolehan bahasa kedua dimaknai saat seseorang memperoleh sebuahbahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai sampai batas tertentu bahasapertamanya (bahasa ibu). Khusus bagi kondisi di Indonesia, istilah bahasa pertama atau bahasa ibu,bahasa asli atau bahasa utama, berwujud dalam bahasa daerah tertentu,sedangkan bahasa kedua berwujud dalam bahasa Indonesia dan bahasa asing.Tujuan pengajaran bahasa asing kadang-kadang berbeda dengan pengajaranbahasa kedua. Bahasa kedua biasanya merupakan bahasa resmi di negaratertentu, oleh karenanya bahasa kedua sangat diperlukan untuk kepentinganpolitik, ekonomi dan pendidikan.
4.    Hakikat Perkembangan Bahasa Anak
Meskipun terdapat perbedaan individual dalam kecepatan, anak memperoleh kemampuan mengembangkan keterampilan-keterampilan berbahasa dasar sebelum masuk sekolah. Perkembangan bahasa meliputi dua komunikasi, lisan dan tertulis.  Kemampuan-kemampuan verbal berkembang sejak dini dan menjelang usia 3 tahun, anak sudah menjadi pengoceh yang terampil. Pada akhir masa anak usia dini, mereka dapat menggunakan dan memahami sejumlah besar kalimat, dapat terlibat dalam pembicaraan yang berkelanjutan dan mengetahui tentang bahasa tulisan. Dari lahir sampai kurang lebih usia 2 tahun bayi memahami dunia mereka melalui panca indera mereka. Pengetahuan mereka didasarkan pada tindakan-tindakan fisik, dan pemahaman mereka terbatas pada kejadian-kejadian saat ini atau tidak jauh dari waktu lampau. Hanya apabila anak-anak mengalami transisi dari tahap sensorimotor ke tahap praoperasional (pada usia sekitar 2 tahun) dan mulai berbicara dan menggunakan pikiran atau konsep untuk memahami dunia mereka. Meskipun demikian, selama tahap  praoperasional, pikiran-pikiran mereka masih pralogis, terkait dengan tindakan-tindakan fisik dan cara bagaimana benda-benda tampak pada mereka. Kebanyakan anak tetap berada pada tahap praoperasional perkembangan kognitif sampai mereka berusia 7 atau 8 tahun.
5.    Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa Anak
                 Kemampuan berbahasa merupakan suatu potensi yanng dimiliki semua anak manusia yang normal. Kemampuan itu diperolehnya tanpa melalui pembelajaran khusus. Yang sangat menakjubkan ialah, dalam waktu yang relatif singkat, anak sudah dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya. Bahkan, sebelum bersekolah, ia telah mampu bertutur seperti orang dewasa untuk berbagai keperluan dan dalam bermacam situasi.
5.1  Tahap Pralinguistik (Masa Meraba)
Pada tahap ini, bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan anak belumlah bermakna. Bunyi-bunyi itu memang telah menyerupai vokal atau konsonan tertentu. Tetapi, secara keseluruhan bunyi tersebut tidak mengacu pada kata dan makna tertentu. Fase ini berlangsung sejak anak lahir sampai berumur 12 bulan.
a.    Pada umur 0-2 bulan, anak hanya mengeluarkan bunyi-bunyi refleksif untuk menyatakan rasa lapar, sakit, atau ketidaknyamanan. Sekalipun bunyi-bunyi itu tidak bermakna secara bahasa, tetapi bunyi-bunyi itu merupakan bahan untuk tuturan selanjutnya.
b.    Pada umur 2-5 bulan, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi vokal yang bercampur dengan bunyi-bunyi mirip konsonan. Bunyi ini biasanya muncul sebagai respon terhadap senyum atau ucapan ibunya atau orang lain.
c.    Pada umur 4-7 bulan, anak mulai mengeluarkan bunyi agak utuh dengan durasi yang lebih lama. Bunyi mirip konsonan atau mirip vokalnya lebih bervariasi.
d.   Pada umur 6-12 bulan, anak mulai berceloteh. Celotehannya merupakan pengulangan konsonan dan v okal yang sama seperti/ba ba ba/, ma ma ma/, da da da/.
5.2     Tahap satu – kata
Fase ini berlangsung ketika anak berusia 12-18 bulan. Pada masa ini, anak menggunakan satu kata yang memiliki arti yang mewakili keseluruhan idenya. Tegasnya, satu – kata mewakili satu atau bahkan lebih frase atau kalimat. Oleh karena itu, frase ini disebut juga tahap holofrasis.


5.3     Tahap dua – kata
Fase ini berlangsung sewaktu anak berusia sekitar 18-24 bulan. Pada masa ini, kosakata dan gramatika anak berkembang dengan cepat. Anak-anak mulai menggunakan dua kata dalam berbicara. Tuturannya mulai bersifat telegrafik. Artinya, apa yang dituturkan anak hanyalah kata-kata yang penting saja, seperti kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Kata-kata yang tidak penting, seperti halnya kalau kita menulis telegram, dihilangkan.
5.4     Tahap banyak – kata
Fase ini berlangsung ketika anak berusia 3-5 tahun atau bahkan sampai mulai bersekolah. Pada usia 3-4 tahun, tuturan anak mulai lebih panjang dan tata bahasanya lebih teratur. Dia tidak lagi menggunakan hanya dua kata, tetapi tiga kata atau lebih. Pada umur 5-6 tahun, bahasa anak telah menyerupai bahasa orang dewasa.
Pada tahap-tahap perkembangan bahasa, berkembang pula penguasaan mereka atas sistem bahasa yang dipelajarinya. Sistem bahasa terdiri atas subsistem berikut:
a.       Fonologi, yaitu pengetahuan tentang pelafalan dan penggabungan bunyi-bunyi tersebut sebagai sesuatu yang bermakna.
b.      Gramatika (tata bahasa), yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsusr tuturan
c.       Semantik leksikal (kosakata), yaitu pengetahuan tentang aturan pembentukan unsusr tuturan
d.      Pragmatik, yaitu pengetahuan tentang penggunaan bahasa dalam berbagai cara untuk berbagai keperluan





BAB III
PENUTUP

A.       Simpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa anak adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk,1998). bahasa anak ada beberapa ragam antara lain berdasarkan bentuk, berdasarkan urutan, berdasarkan jumlah, berdasarkan media,dan berdasarkan keaslian.
Pemerolehan bahasa anak dimulai dari lingkungannya terutama lingkungan keluarga, ini disebut pemerolehan bahasa pertama yang meliputi strategi imitasi, strategi produktivitas, strategi umpan balik, dan prinsip operasi. Sedangkan pemerolehan kedua yakni dimaknai saat seseorang memperoleh bahasa lain setelah terlebih dahulu ia menguasai bahasa ibu atau bahasa pertama. Hakikat perkembangan bahasa anak meliputi komunikasi lisan dan komunikasi tertulis.
Tahap perkembangan anak meliputi tahap pralinguistik, tahap satu-kata, tahap dua-kata, dan tahap banyak kata.
B.       Saran
Sebagai calon pendidik, mahasiswa diharapkan benar-benar mampu memahami materi pemerolehan dan perkembangan bahasa, karena materi ini akan memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang bagaimana cara anak-anak belajar bahasa dan sejak kapan anak-anak mulai mengenal bahasa. Pemahaman yang baik mengenai hal tersebut tentu akan memudahkan mahasiswa (calon pendidik) untuk menciptakan suasana pembelajaran Bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi, kebiasaan, dan strategi belajar bahasa anak yang memungkinkannya menguasai bahasa dengan baik dan benar.





DAFTAR PUSTAKA
Faisal, M. Dkk. 2009. Kajian Bahasa Indonesia SD. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Targan, Djago. Dkk. 2004.  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Jakarta: Universitas Terbuka.
Darjowidjojo, S. (Ed.). 1991. Perkembangan Bahasa Anak Indonesia, Dua Belas Bulan yang Pertama. Makalah ini disajikan dalam PEIIBA 9 di Lembaga Bahasa Unika Atmajaya. Jakarta.
_________. 1991. Perkembangan Bahasa Anak Indonesia, Dua Belas Bulan yang Pertama. Makalah ini disajikan dalam PEIIBA 10 di Lembaga Bahasa Unika Atmajaya. Jakarta.
Ristiana. Dkk. 2012. Pemerolehan dan Perkembangan Bahasa, diakses pada tanggal 10 September 2012, www.slideshare.net/rizzty/makalah/pemerolehan-dan-perkembangan-bahasa-anak.
Tarigan dkk., Henry Guntur. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa. Bandung : Angkasa.
Aminuddin. 1997.  Isi dan strategi Pengajaran Bahasa dan Sastra.  Malang: PPS IKIP Malang.