Senin, 18 Maret 2013

orientasi perkembangan dan teori perkembangan

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar belakang

Orientasi perkembangan, artinya setiap layanan konseling memperhatikan karakteristik subjek yang dilayani dari sisi tahap perkembangannya. Anak-anak usia dini misalnya tidak boleh disamaratakan dengan anak usia SD, anak usia SD dengan SMP, demikian seterusnya untuk segenap tahap perkembangan. Untuk itu perlu dipahami bahwa setiap  tahap perkembangan memiliki karakteristik tersendiri. Selain itu meskipun dua orang subjek berada pada tahap perkembangan yang sama, aspek keindividualan (individual differences) tetap harus diperhatikan. Dengan demikian orientasi perkembangan dan orientasi individual dipadukan menjadi satu.

B.     Rumusan masalah

1.      Apakah pengertian orientasi perkembangan ?
2.      Apakah teori perkembangan itu ?
3.      Apakah hambatan-hambatan perkembangan kognisi ?
4.      Apa saja tugas perkembangan pada masa remaja ?
C.    Tujuan

1.      Mengetahui pengertian orientasi perkembangan.
2.      Mengetahui teori perkembangan.
3.      Mengetahui hambatan perkembangan kognisi.
4.      Mengetahui tugas perkembangan pada masa remaja.








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Orientasi Perkembangan

Orientasi ini lebih menekankan pada pentingnya peran perkembangan yang terjadi pada saat ini dan yang akan terjadi pada masa mendatang pada diri individu. Myrick (dalam Mayers, 1992) berpendapat bahwa perkembangan individu secara tradisional dari dulu sampai sekarang menjadi inti dari pelayanan bimbingan. Bimbingan sendiri memberikan kemudahan-kemudahan bagi gerak individu menjadi alur perkembangannya, menuju kematangan dalam perkembangannya itu.
Orientasi perkembangan menurut Ivey dan Rigazio (dalam Mayers, 1992) merupakan cirri khas yang menjadi inti gerakan bimbingan. Dalam setiap tahap perkembangan individu, akan mengalami permasalahan, dan permasalahan yang dihadapi individu dapat diartikan sebagai terhalangnya perkembangan. Menjadi tugas setiap konselor dan klien untuk berkerjasama menghilangkan penghalang itu, demi mencapai perkembangan klien yang optimal.

B.     Pengertian Teori Perkembangan

Teori adalah keyakinan umum yang membantu kita menjelaskan apa yang kita amati dan membuat prediksi. Teori yang baik memiliki hipotesis, yang merupakan asumsi yang harus diuji.
Macam –macam teori perkembangan:
1.      Teori-teori Psikoanalitis
Freud  mengatakan kepribadian terdiri dari 3 struktur yaitu –id, ego dan superego, dan bahwa kebanyakan pemikiran anak-anak bersifat tidak disadari. Tuntutan struktur kepribadian yang saling bertentangan menyebabkan kecemasan. Mekanisme pertahanan, khususnya represi, melindungi ego dan mengurangi kecemasan. Freud yakin bhwa masalah berkembang karena pengalaman masa anak-anak sebelumnya.

2.      Teori-teori Kognitif
Piaget mengatakan bahwa anak-anak melampaui empat tahap perkembangan kognitif, yaitu : sensorimotor, praoperasional, operasinal konkrit dan  operasional formal. Teori pemrosesan informasi mengenai bagaimana individu memproses informasi tentang dunianya, yaitu meliputi : bagaimana informasi masuk kedalam pikiran, bagaimana informasi disimpan dan disebarkan, dan bagaimana informasi diambil kembali untuk memungkinkan kita berpikir dan memecahkan masalah.

3.      Teori-teori Perilaku dan Belajar Sosial
Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidak penting dalanm memahami perilaku. Menurut B.F Skinner, seorang pakar behavioris terkenal, perkembangan adalah perilaku yang diamati, yang ditentukan oleh hadiah dan hukuman di dalam lingkungan. Teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Albert Bandura dan kawan-kawan, menyatakan bahwa lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku, tetapi proses-proses kognitif tidak kalah pentingnya. Menurut pandangan belajar sosial, manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya sendiri.

4.      Teori Etologis
Konrad Lorenz adalah salah seorang pengembang penting teori etologi. Etologi menekankan landasan biologis dan evolusioner perkembangan. Penanaman dan periode penting merupakan konsep kunci. Garis besar teori ini mengatakan pada dasarnya sumber dari semua perilaku sosial ada dalam gen. Ada instink dalam makhluk untuk mengembangkan perilakunya. Analogi yang dikemukakan adalah “genes setting the stage, and society writing the play”. Teori ini memberikan dasar bagi pemahaman periode kritis perkembangan dan perilaku melekat pada anak segera setelah dilahirkan.

5.      Teori-teori Ekologi
Teori etologis menempatkan tekanan yang kuat pada landasan perkembangan biologis. Sedangkan teori etologi, Urie Bronfenbrenner (1917) mengajukan suatu pandangan lingkungan yang kuat tentang perkembangan yang sedang menerima perhatian yang meningkat. Teori ekologi adalah pandangan sosiokultur Bronfenbrenner tentang perkembangan , yang terdiri dari 5 sistem lingkungan mulai dari masukan interaksi langsung dengan gen-gen sosial yang berkembang baik hingga masukan kebudayaan yang berbasis luas. Kelima sistem dalam teori ekologis Bronfenbrenner ialah mikrosystem, mesosyem, ekosistem, makrosistem dan kronosistem.

6.      Orientasi Teoritis Eklektis
Tidak satupun teori dapat menjelaskan kompleksitas perkembangan masa hidup yang kaya dan mengagumkan. Masing-masing teori memberikan sumbangan yang berbeda, dan barangkali strategi yang paling bijaksana adalah mengadopsi perspektif teoritis eklektis jika kita ingin memahami perkembangan masa hidup secara lengkap. Sebagai suatu perspektif, pandangan masa hidup mengkoordinasikan sejumlah prinsip teoritis tentang hakekat perkembangan. Dengan mempertimbangkan gagasan-gagasan tentang perspektif masa hidup bersama dengan teori-teori perkembangan yang ada, maka dapat diperoleh suatu rasa konsep teoritis yang penting dalam memahami perkembangan masa hidup.   



C.    Hambatan-Hambatan perkembangan Kognisi

Thompson dan Rudolf (1983), secara khusus melihat perkembangan individu dari sudut perkembngan kognisi. Dalam pendapat tersebut, terdapat pula hambatan-hambatan kognisi dalam empet bentuk, yaitu:
  1. Hambatan egosentrisme, yaitu ketidakmampuan melihat kemugkinan lain di luar apa yang dipahaminya.
  2. Hambatan konsentrasi, yaitu ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian pada satu aspek hal.
  3. Hambatan reversibilitas, yaitu ketidakmampuan menelusuri alur yang terbalik dari alur yang dipahami semula.
  4. Hambatan transformasi, yaitu ketidakmampuan meletakkan sesuatu pada susunan urutan yang diterapkan.

D.    Tugas Perkembangan pada Masa Remaja

Masing-masing individu berada pada usia perkembangan. Dalam setiap tahap usia perkembangan, individu hendaknya mampu mewujudkan tugas perkembangan tersebut. Setiap tahap atau periode perkembangan mempunyai tugas-tugas perkembangan sendiri-sendiri yang sudah harus dicapai pada akhir tahap perkembanganya itu. Pencapaian tugas perkembangan di suatu tahap perkembangan akan mempengaruhi perkembangan berikutnya(Ratna Asmara Pane, 1988). Tugas perkembangan itu merupakan suatu tugas yang muncul pada periode tertentu dalam rentang kehidupan individu, yang apabila tugas itu dapat berhasil dituntaskan akan membawa keberhasilan; sementara apabila gagal, maka akan menyebabkan ketidakbahagiaan pada diri individu yang bersangkutan, menimbulkan penolakan masyarakat, dan kesulitan-kesulitan dalam menuntaskan tugas-tugas berikutnya(Yusuf, 2009:65). Sebagai contoh dapat dikemukakan tugas perkembangan pada masa remaja menurut Havighurst yang dikutip oleh Hurlock(1980) antara lain:

a)      Mampu mengadakan hubungan-hubungan baru dan lebih matang dengan teman sebaya baik laki-laki maupun perempuan.
b)      Dapat berperan  sosial yang sesuai.
c)      Menerima keadaan fisik serta dapat memanfaatkan kondisi fisiknya dengan baik.
d)      Mampu menerima tanggung jawab sosial dan bertingkah laku sesuai dengan tanggung jawab sosial.
e)      Tidak tergantung secara emosional pada orang tua atau orang dewasa lainnya.
Selanjutnya, menurut Willian Kay mengemukakan tugas perkembangan remaja itu sebagai berikut:
a)      Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
b)      Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai otoritas
c)      Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
d)      Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
e)      Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
f)       Memperkuat self-control (kemampuan mengendalikan diri) atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup.
g)      Mampu meninggalkan reaksi dan penyesuaian diri (sikap/perilaku) kekanak-kanakan.




BAB III
PENUTUP

A.Simpulan
Orientasi perkembangan artinya setiap layanan konseling memperhatikan karakteristik subjek yang dilayani dari sisi tahap perkembangannya. Teori perkembangan terdiri dari teori-teori Psikoanalitis, teori-teori Kognitif, teori-teori Perilaku dan belajar social, teori Etologis, teori Ekologi dan Orientasi Teoritis Eklektis. Hambatan-hambatan kognisi dalam empat bentuk, antara lain hambatan egosentrisme, hambatan konsentrasi, hambatan reversibilitas dan hambatan transformasi.

B. Saran
Pemahaman tentang orientasi perkembangan dan teori perkembangan bagi seorang guru, dapat dijadikan bimbingan terhadap anak didiknya yang sedang mengalami permasalahan. Dan permasalahan tersebut dapat menjadi terhalangnya perkembangan.